Jejak-jejak Kebaikan AARS

Menata TPA Sumompo, Mengubah Wajah Kota (1/Bersambung)

Oleh Alexander Mellese

Bacaan Lainnya

LAMA tak jumpa, apa kabar? Kawan lama, seorang wakil rakyat Manado menyapa melalui layanan whatsapp (WA). Namanya JL.  Kadang saya panggil Bos JL. Atau Ketua JL dan Ibu Dew JL, kalau dia lagi kumpul dengan rekan-rekannya sesama wakil rakyat.

Kami memang berteman akrab. Suaminya juga kawan baik saya. Saya dulu rutin ngopi bareng dengan JL dan suaminya HR. Tapi karena kesibukan masing-masing belakangan ini, kami sudah jarang ketemu.

Hari ini dia menyapa. Sahabat yang baik memang harus saling menyapa. Saya sudah mau membalasnya. Namun, dia mendahului mengirimkan pesan lagi.

“Sudah lama juga saya tak membaca tulisan anda.  Saya ingin tahu pandangan wartawan senior seperti anda terhadap kinerja pemerintahan Andre Angouw-Richard Sualang atau AARS?  Saya tunggu goresan penanya,” tulis dia lagi.

Saya akui JL memang dekat AARS.  Mereka satu partai. Ketiganya juga punya background sebagai pengusaha yang membuat hubungan  mereka makin dekat.

Bisa jadi karena faktor kedekatan tersebut, ia ingin tahu pandangan berbagai kalangan soal kinerja AARS, termasuk saya.  Apa yang kurang akan ia sampaikan kepada dua pimpinannya di partai berlambang banteng itu.

JL tahu dua atau tiga tahun terakhir ini saya hampir tak pernah  menginjakkan kaki di Kantor Wali Kota Manado. JL pun tahu saya tak pernah merasakan kontrak kerja sama, termasuk di DPRD Manado sejak era pemerintahan AARS.

Walau begitu, ia percaya saya tetap akan memberi penilaian secara obyektif. Sebagai sahabat dekat, ia tahu konstruktsi berpikir saya yang selalu berdasarkan fakta.

Maka saya tak bisa menolak permintaan tersebut. Pun tak diminta, saya juga tetap akan menulis. Seorang wartawan atau penulis tak boleh berhenti berkarya. Menulis tentang kemajuan pembangunan, mengulik ketimpangan yang terjadi dalam berbagai aspek dan berjuang lewat tulisan untuk kesejahteraan serta masa depan daerah dan negara yang lebih baik.

Menulis sebanyak mungkin tentang kebaikan itu perlu. Kebaikan itu menggarami sekitarnya. Harapannya tentu saja agar semua orang bisa berbuat baik dalam hidupnya. Jika semua menabur kebaikan, daerah dan negara pasti maju.

Baca juga:  Polisi Amankan 27 Anak Muda di Tomohon, Diduga Gelar Pesta Lem dan Praktek Prostitusi Online

Semangat menabur kebaikan itulah yang mendasari tulisan saya.  Walau tak pernah berdiskusi empat mata, ataupun bertandang khusus di ruangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado, saya tetap bisa menelusuri jejak-jejak kebaikan yang sudah dilakukan AARS. Kebaikan yang bermuara pada kemajuan Kota Manado.

Mari mengulik kebaikan dua politisi PDIP itu, mengulik programnya yang sukses mengubah wajah ibukota Provinsi Sulut menjadi lebih baik.  Kita ulik dengan hati, bukan dengan prasangka.

Saya ingin memulainya dari tempat pembuangan akhir atau TPA Sumompo. Sebelum pemerintahan AARS, TPA Sumompo dianggap biang munculnya sebutan Manado Kota Terkotor di Indonesia.   Tempat ini tak bisa menampung tumpukan sampah dari berbagai penjuru wilayah.  Luberan sampah di mana-mana.

Kondisi ini sangat menganggu. Penanganan sampah yang buruk jelas  ancaman bagi kesehatan masyarakat. Pemerintah Kota (Pemkot) Manado ketika itu mencoba menyiasatinya melalui pengadaan incenarator.  Alat ini digunakan untuk membakar limbah dalam bentuk padat dan dioperasikan dengan memanfaatkan teknologi pembakaran pada suhu tertentu.

Namun, upaya ini tak berjalan sesuai rencana.  Pengadaan incenarator malah menyisakan cerita lain. Soal adanya dugaan korupsi di balik itu. Tapi, saya tak ingin membahas lebih lanjut tentang ini. Toh kasusnya juga sudah selesai.

Poin yang ingin saya sampaikan bahwa upaya mengatasi sampah melalui pengadaan incenarator gagal. Tumpukan sampah tetap menghiasi wajah kota. Kondisi yang tak diharapkan ini terjadi, katanya karena TPA Sumompo tak bisa lagi menampung tumpukan sampah dari berbagai penjuru Kota Manado. Saya sebut katanya karena memang itu yang sering disampaikan lalu.

Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus AARS. Setelah dinyatakan sebagai pemenang Pilwako Manado, AA beberapa kali mengunjungi TPA Sumompo. Ia tak sendiri, mantan Ketua DPRD Provinsi Sulut itu kerap membawa timnya.

Dari beberapa kali kunjungannya, AA punya gambaran apa yang akan dilakukannya ketika dilantik sebagai Wali Kota Manado. Pengusaha yang menyelesaikan kuliah S1 dan S2-nya di negeri Paman SAM itu memang tipikal pemimpin yang tak suka di belakang meja saja. Ia ingin terjun langsung supaya bisa mengambil keputusan dengan tepat untuk kepentingan orang banyak.

Ketika dilantik menjadi Wali Kota Manado, AA langsung action. Tak hanya melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), ia juga meminta Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk menggerakkan alat berat ke TPA Sumompo. Alat berat tersebut untuk memadatkan tumpukan sampah.

Baca juga:  Diduga Melalukan Perbuatan Tidak Menyenangkan, Oknum Polisi Dipropamkan

Suami tercinta Irene Golda Pinontoan ini tahu kalau TPA Sumompo sesungguhnya masih bisa digunakan untuk beberapa tahun.  Syaratnya  tentu dengan tidak sekedar membuang sampah di lokasi tersebut. Sampah-sampah yang datang dari berbagai penjuru harus dipadatkan. Semua areal difungsikan.

Pekerjaan berat nan menantang tersebut dipercayakan AARS kepada Franky Porawouw. Plt Kadis DLH Manado itu sering kedapatan lembur di TPA Sumompo.  Franky sadar benar kalau ia dan seluruh stafnya menjadi tumpuan AARS mengatasi sampah di kota berpenduduk kurang lebih 500.000 orang tersebut.

Franky enjoy dengan tugas khusus yang dipercayakan kepadanya. Tak sekalipun ia mengeluh. Ia enjoy. Birokrat enerjik itu pernah mengundang saya ngopi di TPA Sumompo. “Ayo sesekali ngopi di sini,” katanya ketika itu.

Keceriaan berbalut semangat menata sampah di Manado menjadi kunci keberhasilan Franky dan seluruh stafnya. Keterlibatan camat, lurah dan 505 kepala lingkungan (Kaling) atau pala tentu tak bisa dikesampingkan juga.

Semua bekerja keras.  Dari  Andrei dan Richard, turun ke  Franky sampai ke semua kepala lingkungan, termasuk masyarakat ikut ‘malendong’ mengangkut sampah, membersihkan lingkungan dan menata TPA Sumompo. Kerja ‘malendong’ sukses.  Manado bukan lagi kota sampah.  Manado kini bersih.

Saya berharap kerja malendong terus dipertahankan. Dalam hal apapun kalau semua bergandengan tangan, semua kendala akan teratasi.

Saya pun berharap keberhasilan mengatasi sampah itu tak membuat Pemkot Manado, khususnya instansi terkait cepat berpuas diri. Di Pulau Jawa, beberapa TPA sudah disulap menjadi tempat wisata yang menyenangkan.

Ada pengelola yang bahkan berinovasi membuat tumpukan sampah menjadi energi terbarukan seperti di TPA Paskusari, Jember, Jawa Timur. Tehnologinya sederhana yakni hanya memasukan pipa berpori-pori kedalam tumpukan sampah, kemudian ditutup dengan tanah, untuk menangkap gas metan.

Gas metan, yang sudah tertangkap selanjutnya disalurkan ke reaktor biogas, untuk memisahkan gas dan air. Bau yang dulunya menyengat bisa digunakan digunakan memasak, layaknya menggunakan gas elpiji oleh warga sekitar.

Inovasi seperti itu mungkin bisa dilakukan di TPA Sumompo, meski memang kendalanya pada keterbatasan lahan. Satu yang pasti situasi yang terjadi saat ini harus terus dipertahankan.  AARS sudah melakukan langkah yang tepat. Bahwa menata kota harus dimulai dari kebersihan. (Penulis adalah CEO indobrita dan emmc grup, penasehat Aliansi Pers Manado)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *