Jejak-jejak Kebaikan AARS (2)

Oplus_131072

Drainase Besar, Menangkal Banjir dan Area Pedestrian serta Tempat Nyaman untuk Bersantai (Bersambung)

Oleh Alexander Mellese

Bacaan Lainnya

JALAN kaki sambil menikmati pemandangan kota menjadi rutinitas baru saya dalam dua bulan terakhir. Rutenya mungkin hanya setengah kilometer saja. Dari Mantos sampai Megamal, menyeberang ke itCenter kemudian lanjut sampai Bank Sulut lama.  Setelah itu saya naik mikro ke daerah tujuan.

Hobi jalan memang sudah lama menjadi kebiasaan saya. Selain hemat, jalan kaki bagus untuk kesehatan.

Intensitas jalan kaki makin tinggi setelah duet Andrei Angouw dan Richard Sualang membuat drainase besar di sejumlah titik, terutama di jalan-jalan utama. Drainase besar itu kemudian ditutup dan dipercantik hingga menjadi area pedestrian yang nyaman bagi pejalan kaki.

Di rute yang biasa saya lewati itu, bahkan disediakan tempat bersantai. Jika pagi atau sore sampai malam, banyak warga yang duduk di area tersebut. Sembari menunggu angkutan kota yang lewat, saya juga biasa duduk di bangku kayu yang tertata apik tersebut.

Wali Kota Manado Andrei Angouw melihat perbaikan dan pembangunan drainase di Kali Mas Pasar Bersehati. (Foto: PAS)

“Anda sebenarnya duduk di atas drainase. Selain menangkal banjir dan mempercepat buangan air yang menggenangi jalan, drainase di era pemerintahan AARS juga bisa menjadi tempat santai dan area yang nyaman buat pejalan kaki,” kata Aji Pramono, wartawan Manado Post Digital ketika mendapati saya sedang menunggu angkutan umum di depan Rumah Sakit Siloams  Manado.

Dari pernyataan wartawan senior yang eksis sejak tahun 1998 itu, drainase yang dibuat di era pemerintahan AARS tersebut punya tiga fungsi. Fungsi utamanya tentu saja mempercepat genangan air di jalan dan memiminimalisir dampak banjir. Dua fungsi lainnya adalah tempat bersantai dan area atau trotoar bagi pejalan kaki.

Baca juga:  Reses Wakil Ketua DPRD Manado Richard Sualang, Warga Curhat Soal Ini..

Drainase yang dibangun itu berfungsi dengan baik. Manfaatnya sudah dirasakan warga kota Manado. Berapa titik yang dulu jadi langganan banjir seperti kawasan Tikala, khususnya sekitaran lapangan Tikala, pompa bensin dan Kantor KPU Manado kini aman.  Dulu, hujan hanya sekitar satu jam saja, area ini sudah jadi kubangan lumpur dan air.

Genangan air, apalagi banjir juga tak terlihat lagi di area Bethesda dan di depan Rumah Sakit ODSK, Polda Sulut, Jalan Pierre Tendean, Jalan Sam Ratulangi dan beberapa lokasi yang pembangunan drainasenya sudah selesai.

Drainase memang harus menjadi prioritas. Beberapa tahun lalu Manado pernah diterjang banjir hebat. Salah satu penyebabnya karena drainase dan saluran air di semua wilayah yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Banjir tak hanya membuat kota semrawut, menghadirkan kemacetn dan ancaman lainnya. Banjir lebih dari itu. Ia membuat masyarakat sengsara berkepanjangan. Warga yang rumahnya diterjang banjir harus mengungsi.

Setelah banjir surut, warga harus pulang untuk membersihkan rumahnya. Jika rumahnya rusak parah, warga harus mengeluarkan uang lagi untuk perbaikan supaya nyaman ditinggali.

Persoalan banjir ini memang paling krusial. Makanya kebijakan AARS membangun drainase besar layak didukung. Pembangunan Ini tidak boleh ditunda. Menunda pekerjaan ini sama dengan menunda kenyamanan masyarakat. Menunda pembangunan drainase berarti membiarkan banjir mengintai  Manado.

Membangun drainase besar sama dengan meletakkan fondasi kokoh untuk Manado. Di sini butuh nyali. Dan bersyukur Andrei dan Richard punya nyali.

Iya kalau tidak punya nyali, keduanya tak akan berani memulai pembangunannya. Bukankah lebih nyaman menggunakan anggaran untuk bantuan langsung tunai dibanding membangun drainase yang tidak secara primer bersentuhan langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat.

Baca juga:  Peduli Pendidikan, Tiga Kali Gubernur Olly Raih Anugerah Kihajar

Mengalokasikan anggaran untuk bantuan langsung tunai pasti menaikkan elektabilitas keduanya. Apalagi warga sudah terbiasa menerima bantuan seperti itu.

Tapi AARS berani mengambil kebijakan yang tidak populis. Nyali duo top eksekutif ini cukup besar dalam menentang arus. Mereka tak menghitung elektabilitas. Mereka lebih memikirkan masa depan. Bahwa kalau tidak sekarang, selamanya Manado akan jadi intaian banjir mengingat ibu kota provinsi Sulut ini berada di dataran rendah.

Maka itu saya mengapresiasi keberanian dan kebijakan AARS  membangun drainase besar. Walau harus mengencangkan ikat pinggang di sejumlah sektor, pembangunan drainase sebagai fondasi penataan kota harus dilakukan.

Pembangunan itu digelar bertahap, menyesuaikan ketersediaan anggaran. Dimulai dari paling yang paling urgen, paling mendesak.  Setelah kawasan Tikala, Wanea, Samraat, Bethesda dan Pierre Tendean kini pembangunan drainase menjangkau pinggiran kota seperti Ranomuut, Paal Dua, Winangun dan lainnya.

Seperti di pusat kota dan jalan-jalan utama, drainase yang dibangun di wilayah pinggiran juga cukup besar dengan kedalaman beberapa meter. Bedanya, tak disediakan tempat duduk untuk bersantai. Fungsi drainase untuk mempercepat genangan air di jalan itu yang lebih ditonjolkan, selain menjadi sarana pejalan kaki seperti saya.

Saya berharap pekerjaan membangun drainase ini menjangkau semua  wilayah yang rawan terdampak banjir. Membangun drainase akan memberi kenyamanan bagi masyarakat. Pekerjaan ini memang tak bisa tunas satu atau dua tahun saja karena keterbatasan anggaran.  Butuh beberapa tahun, bahkan bisa dua periode untuk menyelesaikan pembangunan drainase.

AARS sudah memulai dan melakukannya dengan tepat. Keduanya sudah membangun fondasi yang kokoh untuk Manado.(*/Penulis adalah CEO indobrita-EMMC Grup/Penasehat  Aliansi Pers Manado)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *