Komisi II DPRD Sulut Semprot Pertamina di RDP, gara-gara Kelangkaan BBM

indoBRITA.co, MANADO – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar membuat resah warga masyarakat Sulawesi Utara pengguna BBM jenis ini. Selain itu juga, terjadi antrian panjang di SPBU hingga mengakibatkan kemacetan panjang.

Menanggapi persolan tersebut, Komisi II DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang membidangi perekonomian dan keuangan mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama dengan PT Pertamina (Persero) TBBM Bitung, Biro Perekonomian Provinsi Sulut serta perwakilan Polda Sulut, Senin (10/6/2024) yang digelar di ruangan rapat Komisi II.

Bacaan Lainnya

Rapat dipimpin langsung Ketua Komisi II DPRD Sulut Sandra Rondonuwu, didampingi anggota Jems Tuuk, Farry Liwe, Inggried Sondakh, Teddy Pontoh, serta Husein Tuahuns.

Pada kesempatan tersebut, usai mendengarkan pemaparan dari pihak Pertamina, Ketua Komisi II DPRD Sulut Sandra Rondonuwu menerangkan bahwa apa yang disampaikan terkesan menutup-nutupi, tidak terbuka terkait kelangkaan BBM tersebut.

Baca juga:  149 Polwan Polda Sulut Terima Brevet Penyelam Polri

“Penjelasan tidak terbuka ke kita terkait kelangkaan BBM dan tidak bisa mengambil kebijakan. Agak sulit mengungkapkan fakta-fakta yang sesungguhnya tentang kenapa terjadi kelangkaan BBM,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Sulut Jems Tuuk mengungkapkan kekesalannya kepada pihak Pertamina.

“Kalau kamu tahu bilang di DPR, pak kami sudah menyalurkan ini sesuai dengan aturan. Kalau ini tidak ada, ada penimbunan atau ada oknum-oknum Polisi dan Tentara yang bermain. Kalian kasih tahu saja di sini. Ini rumah rakyat. Ada dua perwakilan dari Polda. Kalau bapak-bapak Polisi ini tidak bisa, kami lapor ke Polda. Kalau Kapolda tidak bisa, kami bisa langsung ke Bareskrim Mabes Polri. Itu secara konstitusional kami akan bergerak. Tidak mungkin Pertamina tidak tahu ke mana dia berkurang,” ungkap Tuuk kepada pihak Pertamina dengan nada kesal.

Dikatakan Tuuk, masyarakat setiap hari memberitahu bahwa kekurangan solar untuk membajak sawah dan ladang.

“Kamu tahu efek timbulnya domino itu apa? Kita akan kekurangan pangan. Kalian paham tidak? Saya tanya solusinya apa, bukan kalian menjelaskan bahwa setiap mobil jatahi 60 liter, 200 liter. Tidak penting bagi kami. Tadi sudah jelas kalian jelaskan, itu sudah bagus bahwa kami Pertamina tidak dalam status menambah dan mengurangi kuota. Karena secara aturan, yang mengatur ini adalah BPMigas,” katanya.

Baca juga:  Masuk MURI, Sulut Raih Prestasi Terbaik Pelayanan KB

Ditanya Tuuk kenapa kekurangan solar, di lapangan sudah di suplai, tetapi kurang.

“Bahasa tadi sudah jelas, karena ada panic buying. Saya kejar panic buying. Saya tanya panic buying, kalian jelaskan apa, suplai kami begini. Kita harus cek. Nah, kalau begitu siapa yang melakukan penimbunan? Penjelasan kalian akan menentukan 2,9 juta masyarakat Sulawesi Utara,” tuturnya.

Sementara itu pihak PT Pertamina menyampaikan bahwa bukan maksud untuk tidak menjawab pertanyaan, tetapi hanya menyampaikan alurnya seperti apa.

“Kenapa timbul panic buying karena kita melihat adanya antrian. Antrian panjang yaitu mungkin salah satu indikator adanya panic buying,” ucap salah satu perwakilan PT Pertamina. (Ein)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *