MENGENAL ODGJ

Oleh dr Anggriani Anang

ODGJ atau orang dengan gangguan jiwa kerap menerima diskriminasi dari masyarakat karena dianggap berperilaku menyimpang. Padahal dengan penanganan yang baik ODGJ tidak meresahkan atau membahayakan orang lain seperti anggapan umum. ODGJ mengalami gangguan kejiwaan yang menyebabkan perubahan cara berpikir, perasaan, emosi, hingga perilaku mereka sehari-hari, sehingga membuat mereka sulit berinteraksi dengan orang lain.

Saat ini masih banyak ODGJ belum mendapat penanganan yang tepat sehingga penyakit yang dideritanya semakin parah. Kurangnya informasi dan pemahaman mengenai penyakit jiwa membuat banyak orang seringkali memperlakukan ODGJ dengan kurang baik, tidak sedikit ODGJ yang masih dipasung atau dikurung karna dianggap dapat membahayakan dirinya dan orang lain padahal kenyataannya tidaklah demikian. Dengan menjalani pengobatan yang tepat, ODGJ bisa memiliki kwalitas hidup yang baik.

Gejala gangguan jiwa antara lain, mengalami perubahan suasana hati secara drastis misalnya dari gembira menjadi sangat sedih. sering merasa takut secara berlebihan, cenderung menyendiri dan menarik diri dari lingkungan sosial, sering emosional dan amarah yang tak terkendali bahkan sampai melakukan tindakan kekerasan. Gejala awal gangguan jiwa biasanya, merasa sedih berkepanjangan tanpa sebab yang jelas, mati rasa atau tidak peduli dengan sekitarnya, merasa lelah yang signifikan, sulit tidur, sering marah berlebihan, merasa putus asa dan tidak berdaya.

Baca juga:  Ambuguitas akan Identitas ke-Indonesiaan, Antara Fundamentalisme Spritual ataukah Liberalisme Sekuler?

Gangguan jiwa ada 2 golongan : Ringan seperti kecemasan, depresi dan psikosomatis dan yang berat seperti skizofrenia, manik depresi dan psikotik lainnya. Tanda -tanda kecemasan misalnya rasa khawatir yang berlebihan, firasat buruk, tidak tenang, gelisah, takut sendirian,  gangguan daya ingat.

Sedang tanda – tanda depresi misalnya sedih terus menerus, putus asa, rasa bersalah, kehilangan hasrat dan susah tidur. Sedang  pada skizofrenia terjadi perilaku yang menyimpang seperti distorsi persepsi atau halusinasi, distorsi isi pikiran atau waham dan distorsi perilaku.

Penyebab gangguan jiwa pada umumnya orang awam beranggapan bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh santet, guna – guna atau kekuatan supra natural. Akan tetapi sesungguhnya gangguan jiwa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

  • Pengalaman traumatis sebelumnya.
  • Faktor biologis seperti faktor genetik dan gangguan fungsi otak
  • Faktor psikoedukasi seperti pola asuh keluarga yang salah, melindungi anak secara berlebihan, melindungi anak karena sikap berkuasa dan harus tunduk, sikap penolakan terhadap kehadiran anak, norma-norma serta etika dan moral yang terlalu tinggi, penanaman disiplin yang terlalu keras, penetapan aturan yang bertentangan, perselisihan, pertengkaran, perceraian orang tua, persaingan, perfeksionisme, ambisi.
  • Faktor koping secara umum menggunakan dua strategi koping yang biasanya digunakan yaitu problem solving focused coping dan emotion focus coping. individu yang menggunakan problem solving focused coping cenderung berorientasi pada pemacahan masalah yang dialaminya sehingga bisa terhindar dari stres yang berkepanjangan sebaliknya individu yang menggunaka emotion focused coping cenderung berfokus pada ego mereka sehingga masalah yang dihadapi tidak pernah ada pemecahannya yang menyebabkan stres berkepanjangan bahkan bisa jatuh kedalam gangguan jiwa berat.
  • Faktor stressor psikososial turut berkontribusi terhadap terjadinya gangguan jiwa. Banyaknya stressor dan seringnya mengalami sebuah stressor sangat mempengaruhi terjadinya gangguan jiwa.
  • Faktor pemahaman keyakinan beragama juga berkontribusi terhadap kejadian gangguan jiwa, beberapa peniliti melaporkan bahwa lemahnya iman dan kurangnya ibadah dalam kehidupan sehari-hari ada hubungannya dengan kejadian gangguan jiwa.
Baca juga:  LMI Peduli Kasih di Wawontulap, Beda Rumah Tete Wester Tahendung

Dengan melihat faktor-faktor penyebab diatas dapat disimpulkan bahwa gangguan jiwa adalah penyakit kronis yang tidak terjadi begitu saja bukan disebabkan hal-hal yang bersifat supra natural seperti santet atau guna-guna tetapi ada faktor – faktor pencetusnya sehingga perlu penanganan yang komprehensif terutama dukungan sosial dari lingkungan sekitarnya serta pentingnya keterlibatan peran serta keluarga untuk memberikan layanan humanis tanpa tindakan-tindakan diskriminatif, sehingga pasien dapat pulih dan dapat melanjutkan kehidupannya kembali seperti sediakala. (Penulis adalah Dokter Praktek Mandiri)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *